Tak
terasa kita telah sampai di penghujung tahun, Desember bulan penutup kalender. Saat
tahun berganti, akan ada berbagai macam resolusi yang bertebaran di media
sosial. Ya seperti biasanya, orang-orang berlomba membuat resolusi meski
resolusi tahun sebelumnya belum benar-benar di evaluasi. Ada berbagai macam
penyebab resolusi itu tidak tercapai, tapi tema resolusi akan kita bahas di
lain waktu.
Oh ya,
tulisan ini murni opini pribadi yang didasarkan pada pengalaman dan pengamatan saya.
Jadi bisa saja opini saya berbeda dengan opini teman-teman sekaian. Namanya
juga opini, bahasa lainnya adalah pendapat, dan setiap pendapat sangat
bergentung pada setiap orang.
Suatu waktu
saya bersama dengan seseorang, dia adalah orang yang menghabiskan sebagian
waktunya untuk menjadi relawan kemanusiaan. Beliau mengunjungi pondok-pondok
pesantren anak yatim dan penghafal Qur’an untuk menyalurkan bantuan rutin
bulanan. Bantuan tersebut berasal dari para donatur yang kemudian mereka (para
relawan) distribusikan secara rutin.
Satu
ucapan beliau yang sangat berkesan di hati saya;
“Banyak
orang yang bisa berderma dengan uang dan harta benda, tapi hanya sedikit orang
yang mampu mewakafkan waktunya untuk kepentingan orang lain” ujarnya.
Saya akan
coba jabarkan maksudnya, walaupun saya yakin kalian sudah paham apa inti dari
kalimat tersebut. Jadi sebenarnya jauh lebih mudah berbagi harta dibandingkan
berbagi waktu. Karena harta bisa bertambah dan berkurang, sedangkan waktu
tidak. Setiap orang hanya punya 24 jam dalam sehari semalam, sedangkan setiap
orang punya jumlah uang yang berbeda dalam dompet mereka. Misalkan kita punya
uang satu juta, mudah saja untuk mengeluarkan uang sepuluh ribu sebagai derma. Toh
jika kita kehilangan uang hari ini karena memberi, maka esok uang yang lain
akan datang.
Tapi tidak
dengan waktu, jika kita kehilangan momen hari ini maka waktu yang berlalu
takkan pernah berganti. Misalkan sahabat kita ulang tahun dan membuat acara
perayaan. Di saat waktu yang bersamaan ada kegiatan sosial di sebuah panti
asuhan dan kita menjadi relawan. Ketika kita memilih menjadi relawan maka kita
kehilangan momen untuk merayakan ulang tahun sahabat. Begitupun sebaliknya,
ketika kita memilih merayakan ulang tahun, maka kita kehilangan momen untuk
berbagi dengan anak yatim hari itu.
Jika momen
hari itu berlalu, maka momen yang datang esok hari takkan pernah sama. Kesempatan
yang hilang hari ini takkan pernah berganti, inilah mengapa waktu lebih berharga
dari pada uang. Karena uang bisa dicari gantinya esok hari, tapi waktu (momen)
tidak akan bisa digantikan.
Tapi mengapa
orang zaman sekarang jauh lebih menghargai orang yang mampu memberi uang daripada
memberi waktu?
Itu karena
hampir semua dari kita telah terjangkit penyakit matrealis atau orang-orang
yang mementingkan kebendaan. Jadi bukan hanya cewek yang suka morotin cowok aja
ya yang matrealis. Saya rasa kita semua punya ‘matrealis’ dalam diri, cuma kadarnya
saja yang berbeda.
Kita hidup
di zaman hampir segala sesuatu selalu diukur dengan angka, nominal dan
kebendaan. Semua seolah-olah harus soal uang, uang benda mewah dan pamer di
media sosial. Kemewahaan dalam konteks ‘punya uang banyak dan barang mahal’ sering
menjadi standar kebahagiaan. Orang-orang berlomba jadi kaya, memborong barang
mewah, dan pamer di media sosial.
Penyakit
matrealis inilah yang menjadikan waktu seolah tak punya ‘nilai’ jika
dibandingkan nominal dari lembaran rupiah. Karena waktu tidak bisa ditukar
dengan barang-barang mewah, waktu tidak bisa dikonversi menjadi alat
pembayaran. Sedangkan uang bisa dikonversi jadi makanan, uang bisa dikonversi
jadi hiburan dan macam-macam. Yah inilah dunia transaksional, dimana kita tak benar-benar
bisa lepas dari nominal.
Hal
ini pula yang mendorong uang terkesan begitu berharga, bahkan menjadi Tuhan
baru. “Uang adalah segala-galanya, tanpa uang segalanya takkan ada” kita tak
bisa menafikkan hal itu. Karena uang terasa amat berharga dan sulit
mendapatkannya, maka orang-orang mulai enggan melepaskan “berderma” dengan
uangnya untuk kepentingan orang lain. Sehingga saat semua orang menjadi kikir,
ketika ada satu saja yang tidak kikir maka dia akan terkesan sangat dermawan.
Kenyataannya
adalah orang lebih menghargai uang daripada waktu. Sehingga orang yang mau
memberikan uangnya terkesan lebih dermawan daripada orang yang memberikan
waktunya. Karena waktu seakan-akan tiada berharga, sedangkan uang tidak
demikian.
Padahal
waktu jauh lebih berharga daripad uang, kesempatan amat tinggi nilainya
dibandingkan sekedar nominal rupiah. Tapi kita telah dibutakan oleh matrealis
sehingga segala yang tak nampak oleh mata seolah tak ada nilainya. Waktu jarang
sekali dihitung sebagai suatu pengorbanan yang besar. Ada banyak orang yang
punya segunung uang, tapi kehilangan banyak kesempatan untuk menikmati hidupnya
bersama keluarga dan lainnya.
Uang itu
penting, tapi waktu juga amat penting. Sebab tanpa waktu kita takkan bisa
menikmati kekayaan dan kemewahan. Tanpa uang kita juga tak bisa mengakses
berbagai macam ‘fasilitas’ kehidupan yang ditawarkan oleh duniawi.

0 Komentar